Senin, 03 Januari 2011

DAKWAH ADALAH CINTA

Islamedia:Teringat kembali aku akan nasehat Syaikhut Tarbiyah, Ust. Rahmat Abdullah, tentang
dakwah…

Memang seperti itu dakwah.
Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…

“ Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah. : In memoriam Ust. Rahmat Abdullah La’allanaa fii barokatillah…. Ya Alloh, karuniakanlah kami panasnya iman yang mampu membakar ruh HAMASAH untuk terus bermujahadah dengan penuh kesabaran….aamiin

Sabtu, 01 Januari 2011

semuanya tentang kita kawan...!!!

Ketika itu kita dipersatukan oleh sebuah organisasi keagamaan sekolah atau yang sering dikenal orang dengan nama FARIH (Forum Aplikasi Remaja Islam Masjid Al-Hidayah)
Entah mungkin karena suatu kebetulan atau suatu keberuntungan, kita semakin dipersatukan lagi oleh sebuah tagging jawab (hoby) yang sama yakni meneruskan generasi dakwah lewat syair…
Yang pada tahun sebelum-sebelumnya juga selalu ada dan selalu identic dengan segudang prestasi…

Entah bagaimana ceritanya…
Yang ane tahu team nasyid pertama kali adalah team nasyid SALMAN pada tahun 2007 nasyid ini lebih ke aliran melayu alternatif dan sedikit acapela.
Dilanjutkan oleh team nasyid T-FOUR pada tahun 2009 dengan aliran Pop alternatif
Dengan personel :
Aditia syaeful bahri                 (vocal utama)
Adzka rosa sanjayana             (vokal utama)
Dimas sri herdiana                  (vocal tinggi)
Fauzan hamdani                      (vocal rendah)
Agus maulana muhamad          (vocal rendah)
Redy erwan                             (jimbe)
Ari pergiana                            (shaker)
Rian                                         (jimbe)
Sigit                                         (gitar)
Ris-ris risdiana                        (jimbe)

Dengan posisi dan komposisi seperti itu mereka dapat menjuarai berbagai perlombaan nasyid baik tk.Tasikmalaya hingga jawabarat
Yang hasilnya adalah sederet piala yang sudah tidak tertampung diatas lemari di basecamp dan sebagian di lemari loby sekolah…
Keberhasilan mereka juga tak lepas dari bimbingan dari pelatih kami yakni salah satu personel SATU NASYID atau yang lebih dikenal warga smanda sebagai guru angklung awi sada yang kami hormati dan kami cintai PAK TENDI KUSTENDI…
Dengan kesabaran dan keulatanya membimbing kami hingga mendapatkan sederet piala2 tersebut…hehe

Yah…itulah bagian pembuka note ane ini….hahaha